Berjalan melintasi bebatuan dan tebing yang terjal menuju titik teratas
bukit membuatku merasakan indahnya alam dengan kesejukan hamparan angin.
Namun kesejukan itu tiada arti melihat aktifitas dibalik bukit itu. Ku
menemukan seorang kakek tua kulit keriput sambil mengayunkan palu
bajanya ke batuan yang begitu besar dari ukuran tubuhnya. Pak tua ini
tak menurunkan niatnya mecari kehidupan di antara bebatuan yang bisa
saja memuat dia kehilangan nyawanya. Hanya untuk mendapatkan sesuapa
nasi Dia berjuang keras memecahkan batu menjadi ukuran kecil demi masa
depan keluarganya.
Hatiku sungguh ingin menangisi pak tua itu,
seolah aku berjalan mendekatinya tapi akupun tak bisa apa-apa. Kulit
rapuh, tetesan keringat tertancap dikening dan tetap kuat walau terik
matahari sangan menyekat kepala dan punggung. Aku sungguh tak menyangka,
ternyata dibalik usianya yang semakin tua dan tubuhnya kurus masih ada
tersimpan kekuatan yang sangat ajaib bagi usiaku yang lebih muda
dibandingkan dengannya.
Pandanganku teralihkan ke jalan di
anatara himpitan batu-batuan datang berjalan dan kelelahan seorang nenek
tua sambil menggenggam erat ranting batang pepohonan pada tangan
kanannya, dan sebuah botol air minum digenggamnya di tangan kirinya.
Menyaksikan suasana ini semgakin mengharukan. Nenek tua ini menghampiri
kakek tua tadi kemudian menyuruhnya beristirahan sejenak dan menuangkan
air ke cangkir yang kotor. Sementara sang kakek beristirahat, nenek tua
ini mengambil beberapa helai daun jati kemuadin dianyamnya dan alhasil
dari usahanya terbentuk sebuah tenda-tenda kecil yang kurang lebih
berukuran satu meter, setelah terbentuk nenek itu mengikat anyaman itu
diranting pohon yang dia genggam sejak dia berjalan menuju tempat ini.
Ditancapakanlah di tempat kakek tua ini mencari modal usahanya sebagai
perlindungan dari sengatan terik matahari yang memancar.
Hanya
dengan palu baja dengan energi yang pas-pasan sepasang orang tua
menjalani hidupnya dengan penuh resiko di balik bukit dan himpitan
batuan yang bisa saja menimpanya, namun dengan jerih payahnya mereka
hidup dengan sangat serba sederhana. Tapi aku malah bertanya-tanya,
kemana anak-anak mereka…..!!! sungguh tak kusangka kehidupan didunia ini
penuh beban dan kerja keras untuk kehidupan sehari-bersama keluarga.
Menjelang
magrib, sebuah mobil truk yang melintasi bukit dan mengambil serpiahan
batuan yang di lokasi kerja pak tua. Dengan sekejap mata memandang
selembar uang pecahan sepuluh ribu diberikan kepada sang kakek. Setelah
truk itu penuh dengan batu-batuan, sepasang orang tua ini bergegas jalan
perlahan sambil memeras baju yang basah dengan keringat disetiap
tetesannya.
Inilah hidup……… bekerja hanya untuk memberi sesuap
nasi kepada keluarga walau harus mgorbangkan nyawa. Hidup penuh beban
dan perjuangan yang keras, tak mudah hidup tertawa dan memanti upah
yang datang dari arah dan tujuan yang pasti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar