Selasa, 29 Januari 2013

Pak Tua dan Palu Baja

Berjalan melintasi bebatuan dan tebing yang terjal menuju titik teratas bukit membuatku merasakan indahnya alam dengan kesejukan hamparan angin. Namun kesejukan itu tiada arti melihat aktifitas dibalik bukit itu. Ku menemukan seorang kakek tua kulit keriput sambil mengayunkan palu bajanya ke batuan yang begitu besar dari ukuran tubuhnya. Pak tua ini tak menurunkan niatnya mecari kehidupan di antara bebatuan yang bisa saja memuat dia kehilangan nyawanya. Hanya untuk mendapatkan sesuapa nasi Dia berjuang keras memecahkan batu menjadi ukuran kecil demi masa depan keluarganya.

Hatiku sungguh ingin menangisi pak tua itu, seolah aku berjalan mendekatinya tapi akupun tak bisa apa-apa. Kulit rapuh, tetesan keringat tertancap dikening dan tetap kuat walau terik matahari sangan menyekat kepala dan punggung. Aku sungguh tak menyangka, ternyata dibalik usianya yang semakin tua dan tubuhnya kurus masih ada tersimpan kekuatan yang sangat ajaib bagi usiaku yang lebih muda dibandingkan dengannya.

Pandanganku teralihkan ke jalan di anatara himpitan batu-batuan datang berjalan dan kelelahan seorang nenek tua sambil menggenggam erat ranting batang pepohonan pada tangan kanannya, dan sebuah botol air minum digenggamnya di tangan kirinya. Menyaksikan suasana ini semgakin mengharukan. Nenek tua ini menghampiri kakek tua tadi kemudian menyuruhnya beristirahan sejenak dan menuangkan air ke cangkir yang kotor. Sementara sang kakek beristirahat, nenek tua ini mengambil beberapa helai daun jati kemuadin dianyamnya dan alhasil dari usahanya terbentuk sebuah tenda-tenda kecil yang kurang lebih berukuran satu meter, setelah terbentuk nenek itu mengikat anyaman itu diranting pohon yang dia genggam sejak dia berjalan menuju tempat ini. Ditancapakanlah di tempat kakek tua ini mencari modal usahanya sebagai perlindungan dari sengatan terik matahari yang memancar.

Hanya dengan palu baja dengan energi yang pas-pasan sepasang orang tua menjalani hidupnya dengan penuh resiko di balik bukit dan himpitan batuan yang bisa saja menimpanya, namun dengan jerih payahnya mereka hidup dengan sangat serba sederhana. Tapi aku malah bertanya-tanya, kemana anak-anak mereka…..!!! sungguh tak kusangka kehidupan didunia ini penuh beban dan kerja keras untuk kehidupan sehari-bersama keluarga.

Menjelang magrib, sebuah mobil truk yang melintasi bukit dan mengambil serpiahan batuan yang di lokasi kerja pak tua. Dengan sekejap mata memandang selembar uang pecahan sepuluh ribu diberikan kepada sang kakek. Setelah truk itu penuh dengan batu-batuan, sepasang orang tua ini bergegas jalan perlahan sambil memeras baju yang basah dengan keringat disetiap tetesannya.

Inilah hidup……… bekerja hanya untuk memberi sesuap nasi kepada keluarga walau harus mgorbangkan nyawa. Hidup penuh beban dan perjuangan yang keras, tak mudah hidup tertawa dan memanti upah yang datang dari arah dan tujuan yang pasti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar